Puluhan tukang pikul peti berisi jenazah Covid saat ini menjadi tulang punggung proses pemakaman dengan protokol Covid 19 TPU Cikadut Kota Bandung. Para buruh yang terdiri dari pria muda tersebut membantu menurunkan peti berisi Jenazah Korban Covid 19 dari ambulans kemudian memikulnya hingga ke liang lahat. Untuk jasanya, mereka kerap menerima imbalan. Kadang, Rp 1 juta, kadang Rp 2 juta.

Tapi, tak jarang tak mendapat apa apa selain ucapan terima kasih. Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Bandung, Ema Sumarna, mengatakan, dari perspektif regulasi, menjual jasa memikul jenazah dengan protokol Covid di TPU Cikadut adalah tindakan yang tidak bisa dibenarkan. Ditemui di Balai Kota Bandung, kemarin, Wali Kota Bandung, Oded M Danial, mengatakan sudah mengintruksikan Dinas Tata Ruang (Distaru) agar segera membuat solusi soal jasa pikul jenazah ini, termasuk kemungkinan mereka diangkat menjadi pekerja lepas harian (PLH) yang berada di bawah koordinasi dan pengawasan Distaru.

"Saya minta dibahas dan dikaji ke depan solusinya bagaimana," ujarnya. "Sejauh ini kebijakan Pemkot masih sebatas penggalian dan pengurukan." Oded pun meminta Distaru melaporkan perkembangan solusi dari persoalan pengangkutan jenazah yang terjadi di TPU Cikadut.

Koordinator Tim Jasa Pikul Peti Jenazah Covid 19, Fajar Ifana (39), meminta maaf karena ia dan puluhan rekannya terpaksa menghentikan sementara layanan jasa pikul jenazah ini. "Kami berhenti dulu pikul peti karena kami tersinggung disebut pungli. Tadi (kemarin) ada tiga jenazah yang datang, kasihan sempat telantar karena tidak ada yang angkut. Kami mohon maaf," kata Fajar. Fajar mengatakan, selama ini, sekalipun ia dan rekan rekannya menerima imbalan atas jasa yang mereka berikan, mereka tak pernah memaksa dan mematok harga.

Bahkan tak jarang, mereka juga tak menerima imbalan apa pun karena keluarga jenazah yang mereka bantu adalah keluarga tidak mampu. Sejak ia dan rekan rekannya memberi layanan jasa pikul jenazah, April tahun lalu, kata Fajar, pemerintah tidak pernah memperhatikan mereka. Di sisi lain, setiap keluarga jenazah membutuhkan tim pikul untuk angkut peti ke liang lahat.

Hingga kemarin, lebih dari 700 jenazah dimakamkan dengan prosedur Covid 19 di TPU Cikadut. "Alasan kami berhenti memikul karena kami merasa diabaikan. Mungkin saatnya sekarang pemerintah memerhatikan kami di sini, kami itu ada di sini." "Para pejabat jangan hanya melihat ke atas, coba lihat ke bawah," ujarnya.

Fajar mengaku tak tahu sampai kapan ia dan puluhan rekannya menghentikan layanan. "Mungkin sampai ada keputusan yang dari pemerintah tentang legalitas pelayanan yang kami berikan ini," ujarnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published.